Penghuni Surga itu Sibuk


Penghuni Surga itu Sibuk

Bagaimana ketika menempati rumah yang kita idam-idamkan? Mulai ketika sampai di dalamnya, kita sudah sibuk melihat-lihat setiap sudut rumah, "Ahh alangkah bagusnya desainnya."

Kemudian kita sibuk memasuki ruang demi ruang. Tak cukup disitu, kita mulai memikirkan bagaimana menata letak barang-barang kita di setiap ruangan.

Jika ada barang yang kurang atau belum kita punyai, kita mulai sibuk memikirkan barang apa itu, bagaimana memperolehnya, berapa harganya, nanti kalau sudah punya mau ditaruh dimana, dll.

Eksekusi rencana tata letak, barang-barang diletakkan sesuai dengan rencana semula. Tak jarang perlu geser sana, geser sini untuk menjadikan semuanya tampak "sempurna".

Begitu rumah idaman itu telah menjadi bagian dari keseharian kita, kita pun sibuk menikmatinya. Mulai dari menambah fasilitas, hiasan, bahkan berfikir bagaimana agar lebih sering di rumah.

Di rumah itu pun kita akan sibuk bagaimana menikmati semuanya. Bunda memasak agar anak-anak dan suami gemar makan di rumah sekaligus menjamin kesehatan makanannya.

Ayah bermain sepak bola dengan anak-anaknya. Kakak dan adik bekerja sama membuat kreatifitas. Banyak sekali. Tak pernah sehari pun aktifitas terhenti di rumah idaman.

Bagaimana ketika idaman kita itu adalah surga? Surga dari Allah. Bukankah kita mengidam-idamkannya?

Setiap orang yang masuk ke dalamnya pun akan sibuk sekali. Mereka sibuk menikmati segala sesuatu yang ada di dalamnya.

Bagaimana kalau mereka yang sibuk di surga itu adalah mereka yang sibuk dengan Al-Qur'an ketika di dunia. Ketika mereka dipanggil Allah, mereka dalam kondisi bersama Al-Qur'an. Tak inginkah kita, ketika maut menjemput, kita sedang bersama dengan kalam Allah?

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian terkagum dengan amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hayatnya. Karena mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan amalan yang shalih, yang seandainya ia mati, maka ia akan masuk surga. Akan tetapi, ia berubah dan mengamalkan perbuatan jelek. Mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan suatu amalan jelek, yang seandainya ia mati, maka akan masuk neraka. Akan tetapi, ia berubah dan beramal dengan amalan shalih. Oleh karenanya, apabila Allah menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan menunjukinya sebelum ia meninggal.” Para sahabat bertanya,

“Apa maksud menunjuki sebelum meninggal?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu memberikan ia taufik untuk beramal shalih dan mati dalam keadaan seperti itu.” (HR. Ahmad)

Kita dapat mengambil pelajaran berharga dari hadits tersebut. Kita perlu memiliki amal shalih yang kontinyu, agar kita memperoleh khusnul khotimah.

Kesibukan kita berinteraksi dengan Al-Qur'an, marilah kita upayakan sekuat tenaga untuk bisa kontinyu. Dengan demikian, maka logis jika kita berharap beroleh khusnul khotimah yaitu sedang bersama dengan Al-Qur'an ketika maut menjemput.

Pengetahuan tentang kematian yang pasti hanyalah milik Allah. Yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan peluang untuk dapat meraih khusnul khotimah. Yaitu dengan melakukan amal shalih yang kontinyu. Salah satunya adalah berinteraksi dengan Al-Qur'an (membaca, menghafalkan, mengamalkan, mengajarkan).

Semoga Allah tuntun langkah kita menuju keridhoan-Nya. Aamiin.

 

Oleh Lestari Ummu Al Fatih

Yogyakarta, 19 Agustus 2018

 

penulis

About Lestari Ummu Al Fatih

<p> Penulis dan SLC di Sygma Daya Insani</p>

Learn More