Perbedaan antara Idola dan Panutan apa ya?


Perbedaan antara Idola dan Panutan apa ya?

Siapa yang tidak memiliki idola? Dari seorang idola kita terkadang dapat memperoleh inspirasi bahkan motivasi. Dari idola, kita dapat memiliki bayangan mau jadi apa atau mau jadi seperti apa kita?

Ketika kita mengidolakan seseorang, pernahkah kita berfikir atau menimbang-nimbang. “Pantaskah orang yang kuidolakan ini kujadikan panutan?” Sejenak kita lihat apa yang terjadi diluar sana. Banyak anak muda yang mengidolakan seseorang, kemudian menjadikannya sebagai panutan. Mereka mengikuti tingkah laku, gaya bicara, dan gaya berpakaian idolanya. Mereka ingin seperti idolanya tersebut.

Pertanyaan “Pantaskah orang yang kuidolakan ini kujadikan panutan?” adalah filter agar kita tidak terjebak dalam moralitas dan tingkah laku yang tidak layak.

Allah swt membei petunjuk kepada kita dalam menentukan siapa yang layak dijadikan panutan. Dalam QS. Al Ahzab (33) ayat 21, Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab (33): 21).

Apakah hanya Rasulullah yang dapat kita contoh? Ternyata kita bisa mengambil contoh panutan dari para Nabi yang lain. Sebagiamana firman Allah swt dalam Qur’an Surat Yusuf (12) ayat 111, yang artinya: “Sesungguhnya, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf (12): 111).

Bagaimana kita tahu siapa dan seperti apa Rasulullah? Kita hidup di zaman saat ini. Kita memang tidak hidup bersama dengan Rasulullah saat ini. Tapi petunjuk Allah itu pasti dapat kita lakukan. Kita pasti bisa mengambil suri tauladan yang baik dari Beliau.

Sabda Rasulullah SAW: “Aku telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu yang sekali-kali kalian tidak akan tersesat sesudahnya, selagi kalian berpegang teguh kepadanya, yaitu kitab Allah dan sunah Rasul-Nya.” (HR. Malik, al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnn Nashr, Ibnu Hazam).

Kita perlu menanamkan semangat dan tekad untuk mengenal Beliau. Karena Beliau Rasulullah SAW yang diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Kita dapat membaca kisah-kisah beliau melalui siroh. Sehingga kita dapat mengikuti jejak Rasulullah SAW, menajdi kaum yang terbaik moral dan tingkah lakunya. Demikian juga dengan anak cucu kita. Kita dapat memperkenalkan Rasulullah sejak dini. Semoga Allah memandaikan dan memampukan kita untuk mencontoh Rasulullah SAW.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bukhari, Ahmad, al-Hakim).

“Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidak akan masuk surge kecuali yang baik budi pekertinya (Ihya Ulumudin Imam Ghazzali).

 

Lestari Ummu Al Fatih.

Yogyakarta, 14 Juli 2018

Referensi:  - Nabi Muhammad SAW. Harun Yahya. 2003.

                    - Referensi yang dirujuk dalam naskah terutama kutipan hadist.

penulis

About Lestari Ummu Al Fatih

<p> Penulis dan SLC di Sygma Daya Insani</p>

Learn More

Artikel Terkait