4 Persiapan yang dibutuhkan pada saat resign dari Pekerjaan


4 Persiapan yang dibutuhkan pada saat resign dari Pekerjaan

Bagi seorang ibu yang bekerja, terkadang suara hati untuk resign sangat kencang tergiang. Apalagi bagi ibu muda yang memiliki bayi atau anak-anak yang masih kecil-kecil. Suara hati untuk lebih banyak waktu, energi, dan perhatian untuk anak-anak pasti tak kan pernah tenggelam.

Kalaupun memang bertekad untuk resign dari pekerjaan, setidaknya ada bekal yang harus dipersiapkan. 

1. Komunikasi dengan suami

2. Persiapkan ketrampilan diri

3. Bergabung dengan komunitas yang baik

4. Komunikasi dengan Allah

 

1. Komunikasi dengan suami

Bagi yang sudah berkeluarga, komunikasi dengan suami sangat penting dilakukan. Apalagi berkaitan dengan keputusan yang akan membawa dampak jangka panjang. Setidaknya dukungan dari suami akan menjadi energi tersendiri untuk bersiap menempuh hidup baru pasca resign.

Terkadang suami tak langsung setuju akan keinginan istrinya untuk resign. Hal ini wajar saja. Karena mereka berpikir logis dan rasional. Tidak jarang juga yang berpikir akan pemenuhan kebutuhan keluarga jika tidak dibantu istrinya bekerja.

Pasti bisa dilakukan win-win solution. Tetap berusaha untuk bersiap-siap saja. Toh, mengajukan pengunduran diri tidak mungkin dilakukan mendadak, bukan? Ada pertimbangan dan ada prosesnya.

Setidaknya dengan berkomunikasi, maka kita memperoleh masukan pandangan orang lain, khususnya orang terdekat kita. Lebih jauh lagi, dengan ridho dari suami, tentu seorang istri akan lebih enak dalam melangkah.

2. Mempersiapkan ketrampilan diri

Resign dari pekerjaan, bukan berarti berhenti mendapat penghasilan. Jika sebelumnya gaji pasti masuk ke rekening dengan jumlah tertentu pada tanggal tertentu, maka setelah resign kondisinya pasti akan berubah.

Ketidak siapan dalam menghadapi perubahan finansial ini mungkin akan berakibat pada stress atau hal-hal yang kurang baik dalam pola pengasuhan anak-anak.

Sebelum resign, sebaiknya kita sudah mempersiapkan dulu rencana apa yang akan kita lakukan pasca resign. Kalau pun ingin tetap berpenghasilan dari rumah, maka apa nih yang bisa dilakukan?

Ketrampilan apa yang kita punya? Membuat kue, menjahit, memasak, menulis, atau apa yang kita bisa? Kalau saat ini ketrampilannya masih minim, maka asah terus. Ketrampilan tak cukup hanya dengan mengetahui teori sebanyak-banyaknya. Jam terbang praktek akan sangat mempengaruhi keahlian kita.

Jika menulis adalah passion atau skill dasar yang ingin kita optimalkan, maka persiapkan skill itu sebelum resign. Kejar ilmu kepenulisan, pelatihan, workshop kepenulisan dimana saja. Baik offline maupun online. Baik gratis maupun berbayar. Mengeluarkan uang untuk investasi ketrampilan, tidak akan ada ruginya. Tentu akan berbeda rasanya, kita mengeluarkan uang itu ketika kita masih bekerja, dengan ketika kita sudah tidak bekerja. Meskipun sama-sama ada nominal uang yang dibutuhkan untuk belajar. Menulis artikel, buku, review, resensi, bahkan menulis status di media sosial sekalipun perlu dipelajari. Karena dari tulisan-tulisan itu, kita bisa memperoleh penghasilan.

Demikian juga untuk skill lainnya. Kita sendiri yang tahu pasti, ketrampilan mana yang perlu kita upgrade.

3. Bergabung dengan komunitas yang baik

Kondisi setelah resign, pasti akan mengalami perubahan. Baik itu dalam keluarga, maupun di masyarakat tempat kita berada. Ada orang-orang yang meremehkan status ibu rumah tangga. Seolah status itu lebih rendah daripada ibu bekerja. Ada pula yang menyayangkan pendidikan yang telah ditempuh, kenapa akhirnya tidak bekerja dan mendapat gaji yang besar dari perusahaan besar.

Jika kita berada dalam lingkungan yang kecil, dan tidak mau memandang lingkungan di luar sana, mungkin pandangan dan apa kata orang bisa sangat mempengaruhi perasaan.

Lain halnya jika kota berada dalam komunitas yang baik, insyaAllah itu akan dapat memberikan atmosfer jiwa yang positif bagi kita. Misalnya bergabung dalam komunitas ibu-ibu penghafal Al-Qur'an, komunitas menulis, komunitas bisnis, dll. Karena kita akan bisa mengenal lebih banyak orang, dengan berbagai kondisi mereka. Kita akan menemukan orang-orang yang 'senasib sepenanggungan' dengan kita. Komunitas ini penting untuk menjaga semangat, melatih empati, dan memotivasi untuk lebih baik lagi.

4. Komunikasi dengan Allah

Pada dasarnya komunikasi dengan Allah adalah hal terpenting. Karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Kita tidak dapat melakukan sesuatu tanpa izin-Nya. Kita tidak akan mendapat kebaikan tanpa dikehendaki-Nya.

Oleh karena itu, kita perlu intensifkan komunikasi dengan Allah. Melalui sholat, do'a, dan membaca Al-Qur'an. Kita memohon petunjuk kepada Allah agar ditunjukkan jalan keluar terbaik untuk setiap masalah kita.

Bukan berarti setelah resign, kita tidak akan punya tanggungan atau masalah. Justru bisa jadi, masalahnya akan lebih kompleks. Tanpa komunikasi yang intensif dengan Allah, kita akan bingung dan hilang arah.

Mempersiapkan diri sebelum resign adalah langkah yang bijaksana. Agar kita lebih siap menghadapi kehidupan setelahnya. Semoga keinginan kita sebagai seorang ibu untuk dapat mendampingi tumbuh kembang anak-anak, selalu dalam petunjuk dan pertolongan Allah swt. Kita hanya bisa berusaha dan berdo'a. Selebihnya kita serahkan hasil terbaiknya kepada Allah, tawakal pada Allah.

 “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.” (Qs. Al Baqarah : 45).

Demikian artikel tentang 4 persiapan yang dibutuhkan pada saat resign kerja, semoga bermanfaat.

___   

Lestari Ummu Al Fatih

Yogyakarta, 11 Desember 2018

 

INFORMASI:

Iklan yang tampil pada halaman situs ini sepenuhnya diatur oleh pihak google, kami hanya menyediakan slot kosong. Jadi apabila ada iklan yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan anda harap informasikan kepada kami melalui formulir kontak web ini untuk selanjutnya akan kami sampaikan ke pihak Google.

penulis

About Lestari Ummu Al Fatih

<p> Penulis dan SLC di Sygma Daya Insani</p>

Learn More

Artikel Terkait