PERTARUNGAN ANTARA KREATIF DENGAN KRITIS DALAM PIKIRAN PENULIS


PERTARUNGAN ANTARA KREATIF DENGAN KRITIS DALAM PIKIRAN PENULIS

Kalau dengar kata bertarung, sepertinya yang terbayang adalah power rangers atau ultramen begitu ya? Tapi kalau membahas tentang penulis, pertarungan itu bisa terjadi kapan saja antara si kreatif dengan si kritis. Baiklah... kita sebut saja dengan Ranger kreatif dan Ranger kritis ya.

Ranger, kalau menurut kamus Bahasa Inggris-Indonesia, artinya anggota pasukan keamanan atau penjaga hutan. Hehe... penjaga hutan? Pasukan keamanan?

Iya lah. Pikiran kita ini bak hutan belantara. Ide-ide kreatif berkeliaran di mana-mana. Kalau tidak dijaga, dia akan kabur begitu saja. ;-)

Ranger kreatif dan ranger kritis ini ada di dalam pikiran kita. Jadi sebenarmya kita punya duo ranger yang selalu kita bawa kemana-mana. Mereka ini pada dasarnya tidak bisa akur. Jadi kalau muncul bersamaan, mereka akan bertarung untuk menunjukkan siapa yang paling kuat.

Baca juga:

MEMBANGUN BANK IDE UNTUK LANGKAH AWAL MENULIS BUKU

Apa efek pertarungan mereka? Yang kita rasakan dalam dunia nyata adalah terjadinya mentog ide dan mengkritisi tulisan sebelum selesai. Nah, kalau sudah seperti ini, seringkali seseorang akan enggan untuk menulis. Terutama bagi penulis pemula. Enggan menulis adalah titik awal tulisan itu tidak selesai. Padahal, jika bisa diselesaikan, bisa jadi tulisan itu akan banyak sekali menebar manfaat dan sudah ditunggu oleh banyak orang.

Lalu bagaimana agar kedua rangers ini bisa kita manfaatkan dengan baik?

Yaitu dengan memanggil mereka satu per satu. Kemudian dengarkan pendapat masing-masing dengan seksama. Oh iya, memanggil masing-masing dari mereka berdasarkan kebutuhan. Kita lah yang bisa menentukan, kapan butuh ranger kreatif, dan kapan butuh ranget kritis.

Ketika awal menulis, panggillah ranger kreatif. Biarkan ranger kritis istirahat terlebih dahulu. Kalau tetap ia ingin ikut, berikan ia peringatan bahwa ini bukan waktunya dia menghadap kita. Nanti akan dipanggil kalau sudah gilirannya. Pastikan hanya ranger kreatif yang hadir memberikan pendapatnya untuk Anda! Misalnya pada saat kita sedang dalam proses membuat gugusan ide. Ranger kreatif harus kita aktifkan. Karena proses menangkap ide harus kita lakukan dengan cepat, tak bisa ditunda. Ide ibarat investasi bagi penulis. Jadi kalau dibiarkan terlalu lama terombang-ambing tanpa dituangkan dalam gugusan ide, maka dia akan pergi begitu saja. Dituangkan dalam gugusan ide tapi dengan kita membiarkan ranger kritis bersuara, itu juga tidak efektif. Ide bisa tersinggung dan pergi. Bukan waktunya mengkritisi di saat ini ya.

Baca juga:

Tips Menjadi Seorang Penulis yang Produktif

Sebaliknya, ketika tulisan sudah selesai, kita perlu lakukan self editing. Nah, disitulah kita perlu panggil ranger kritis. Sedangkan ranger kreatif, kita istirahatkan dulu. Pada tahap ini, ranger kreatif bisa saja memaksa untuk menyuarakan ide-ide kreatif. Kalau dituruti, nanti naskah kita justru tidak akan selesai, karena ide kreatif ini seolah bagus semuanya. Al hasil, bisa-bisa kita ingin menambahkan kemana-mana.

Jelas ya, bahwa kedua ranger ini sangat kita butuhkan dalam menulis sebuah karya. Namun, perlu kita ingat, kita lah yang harus pandai-pandai mengatur kapan waktunya ngobrol sama masing-masing dari mereka.

Allah Yang Maha Pencipta, telah dengan sempurna membekali kita dengan kemampuan pikiran kreatif dan kritis sekaligus. Tentu saja, jika kita dapat menggunakanannya dengan sebaik mungkin, maka semua ini akan semakin memperlihatkan kebesaran Allah dalam penciptaan diri kita. Sekaligus menambah keyakinan diri kita bahwa kita bisa menulis sebuah karya yang baik hingga selesai.

 

penulis

About Lestari Ummu Al Fatih

<p> Penulis dan SLC di Sygma Daya Insani</p>

Learn More

Artikel Terkait