Ilmu belum tentu berbanding lurus dengan usia


Ilmu belum tentu berbanding lurus dengan usia

Bagaimana suasana belajar ketika kita harus belajar dengan orang lain yang berbeda usia? Bagi saya, ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ketika menuntut ilmu di bangku sekolah, pada umumnya murid-murid adalah seumuran. Kalaupun ada beda usia, paling selisihnya hanya sekitar satu tahun. Demikian juga ketika di bangku perkuliahan. Selisih usia yang besar lebih mungkin untuk terjadi, mungkin bisa mencapai 3 tahun atau bahkan lebih. Bahkan sudah mulai beragam lagi kondisinya. Ada teman-teman kuliah yang mungkin sudah bekerja atau sudah berkeluarga. Background keseharian tersebut sedikit banyak mempengaruhi cara belajar tentunya.

Pengalaman seru saya peroleh ketika menuntut ilmu bersama para ibu dengan range usia yang sangat lebar. Mulai dari 20-70 an. Kalau orang bilang, “Belajar itu untuk yang muda-muda saja.” Kalau begitu yang tua nggak boleh belajar? (Pertanyaan baper. Jangan diladenin :D)

Sekolah dimana saya menuntut ilmu sekarang adalah Rumah Tahfidz Utsmani yang ada di Yogyakarta. Mulai dari pemudi usia sekitar 20 tahun, hingga eyang yang berusia 71 tahun. Kami bersama belajar untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an. Tidak sedikit yang memiliki motivasi untuk dapat menghafal Al-Qur’an. Setidaknya kami berusaha untuk berkomunitas dengan orang-orang yang memiliki keseragaman jiwa, yaitu orang-orang yang ingin dekat dan mencintai AL-Qur’an. Tentu tidak ada yang ingin luput dari syafaat Al-Qur’an, di hari ketika manusia sudah tidak lagi bisa berbuat apa-apa untuk membela diri.

Bagaimana belajar dalam kelas yang terdiri dari peserta dengan range usia yang demikian lebar? Ada berbagai hal yang unik, yang tidak kita temukan dalam suasana belajar di sekolah. Kalau di sekolah dulu, rangking adalah angka pertama yang ingin dilihat ketika menerima raport kan? Sekarang, seolah sudah bukan masanya lagi. Mau mengejar ranking juga untuk apa? Karena suasana pembelajaran memang bukan kompetisi, melainkan saling membantu satu sama lain.

Range usia yang cukup lebar, tentu sedikit banyak akan mempengaruhi perbedaan daya tangkap akan pelajaran. Usia bukan satu-satunya yang mempengaruhi daya tangkap seseorang untuk belajar. Ada factor kesibukan, pikiran akan pekerjaan, atau kepentingan-kepentingan lain di luar pelajaran, termasuk masalah keluarga juga bisa menjadi factor yang mempengaruhi daya tangkap akan pelajaran yang disampaikan Ustadzah. Ketika gerimis turun sementara pembelajaran masih berlangsung, tidak sedikit juga yang beralih focus pada jemuran di rumah (hehe…).

Terkadang ada ekspresi malu ketika bacaan salah-salah, bahkan masalah pengucapan huruf hijaiyah saja masih harus dibetulkan berkali-kali. Namun semangat untuk bisa membaca Al-Qur’an dengan tartil mengalahkan rasa malu itu. Terus berusaha. Alhamdulillah, Ustadzah membimbing dengan penuh kesabaran. Alih-alih berkompetisi untuk melihat siapa yang lebih bagus bacaan Al-Qur’annya, kami justru lebih suka untuk saling memotivasi.

Bagi yang muda, akan termotivasi dari yang tua. Betapa beruntungnya mereka, di usia mereka yang sudah tidak muda lagi, semangat untuk dekat dengan Al-Qur’an masih sangat tinggi. Bagaimana dengan kita kelak di usia tua kita? Bagi yang lebih tua, melihat semangat dan kemampuan dari teman yang lebih muda juga akan menimbulkan perasaan tersendiri. Semangat, “Kalau yang junior saja bisa, kenapa aku yang lebih senior tidak bisa?” Mungkin juga akan menimbulkan perenungan hingga menumbuhkan semangat untuk mendo’akan anak cucunya untuk juga pandai membaca Al-Qur’an.

Di sekolah para ibu ini, tak ada nuansa senioritas dalam belajar. Suasana ini sangat menyejukkan. Kita lihat di luar sana, nuansa senioritas dalam lingkungan pendidikan banyak terjadi. Apalagi jika yang mengajar adalah lebih muda daripada para pelajarnya. Terkadang ada kesan menyepelekan dari siswa terhadap gurunya. Padahal belum tentu yang lebih muda itu lebih sedikit ilmunya.

Adalah sebuah keistimewaan bagi setiap siswanya ketika juga memperoleh ilmu tentang adab belajar. Jika kita melihat banyak fenomena yang kurang baik atau kurang sopan di dalam lingkungan pendidikan dewasa ini, itu mungkin disebabkan oleh kurangnya pembekalan adab dalam belajar. Termasuk salah satunya adalah menghormati guru. Meskipun guru kita berusia lebih muda dari kita. Karena usia tidak bisa dijadikan ukuran akan kedalaman ilmu yang dimiliki oleh seseorang.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang mau mengambil pelajaran, menjadi orang yang beriman dan berilmu. Sehingga Allah meninggikan derajat kita. Dengan ilmu yang Allah karuniakan, semoga Allah memandaikan kita untuk bersyukur kepada-Nya. Menjadikan ilmu itu bermanfaat dan barakah. Dan semoga Allah jauhkan kita dari sifat sombong dan congkak. Bagaimanapun juga, ilmu yang kita miliki adalah sangat sedikit dibandingkan dengan ilmu Allah yang tak terbatas. Ilmu itu pun kita peroleh atas izin dan kehendak Allah. Tak ada hal yang pantas disombongkan. Dan tak ada nikmat Allah yang dapat kita dustakan.

 

Oleh Lestari Ummu Al Fatih

Yogyakarta, 10 Desember 2018

 

INFORMASI:

Iklan yang tampil pada halaman situs ini sepenuhnya diatur oleh pihak google, kami hanya menyediakan slot kosong. Jadi apabila ada iklan yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan anda harap informasikan kepada kami melalui formulir kontak web ini untuk selanjutnya akan kami sampaikan ke pihak Google.

penulis

About Lestari Ummu Al Fatih

<p> Penulis dan SLC di Sygma Daya Insani</p>

Learn More

Artikel Terkait