Tuangkan Idemu, dan Mulailah Menulis


Tuangkan Idemu, dan Mulailah Menulis

Pernah ngalami yang namanya ditinggal ide? Tadi kayaknya ada ide bagus buat ditulis, tapi apa ya? Kog aku lupa sih...

Atau tetiba pikiran seolah kosong mlompong begitu kita melihat layar laptop, padahal tadinya ada suara-suara kreatif yang bersahut-sahutan terdengar.

Sepertinya itu masalah yang umum dialami setiap orang ketika mau menulis sesuatu. Terkadang kalau dapat tugas mengarang ketika sekolah dulu, mengerjakannya nunggu mood. Karena kalau nggak mood, nggak ada ide. Sebenarnya sih bukan nggak ada ide, tapi ide yang datang sepertinya kurang bagus untuk ditulis. Belakangan, baru deh saya tahu kalau ini efek kerja ranger kritis kalau dibiarkan bersuara di awal proses menulis.

Begitu juga kalau mendapat tugas kuliah untuk membuat proposal, menulis laporan praktikum, laporan hasil pengamatan, bahkan skripsi ;-)  Sepertinya menulis adalah tugas paling berat sedunia. Lebih baik disuruh menghitung daripada menulis ;-)

Aaah... seandainya saya tahu teknik menulis sejak dulu, mungkin hal-hal konyol semacam itu nggak perlu saya alami ya ;-)

Baca juga:

Mengapa Perlu Motivasi? Ternyata Motivasi itu Penting Bagi Penulis. 

Ssst, nggak boleh berandai-andai. Belajar dari proses dan pengalaman. Jadinya saya bersyukur pernah merasakan betapa sulitnya menulis. Jangankan menulis, menangkap ide saja seringkali luput.

Barangkali tulisan-tulisan tugas dan skripsi saya itu karena the power of kepepet. Terpaksa harus diselesaikan. Kalau tidak segera selesai bisa-bisa nggak lulus mata kuliah, bahkan nggak lulus kuliah. Tentu semuanya atad izin dan pertolongan Allah. Itu pasti.

Setelah saya tahu, teknik menulis ternyata tidak rumit. Sederhana, dan kita bisa lakukan dengan perangkat yang kita punya. Kertas dan pena, komputer atau laptop, software pun cukup Microsoft word. Iya, itu sudah cukup untuk kita bisa menyelesaikan tulisan dan menelurkan karya tulisan kita.

Menuangkan gagasan adalah langkah awal kita dalam menulis. Jadi menuangkan gagasan atau ide ini sudah menjadi satu dari rangkaian proses menulis. Karena seringkali orang berpendapat bahwa dikatakan sudah menulis kalau sudah ada draft. Tidak begitu ya. Sekali lagi, menuangkan ide sudah merupakan proses menulis. Pada proses ini, kita tidak bisa buang-buang waktu. Menuangkan ide harus cepat. Sebisa mungkin tangkap semua ide yang berkeliaran di dalam pikiran kita. Panggil ranger kreatif. Hanya ranger kreatif.

Baca juga:

PERTARUNGAN ANTARA KREATIF DENGAN KRITIS DALAM PIKIRAN PENULIS

Oh iya, kita sudah membahas duo rangers dalam pikiran kita di artikel sebelum ini ya...

Menuangkan ide yang cepat bisa kita lakukan dengan menggunakan kertas dan pena. Buat gugusan ide di kertas tersebut. Sama sekali tidak boleh dikritisi ya. Biarkan saja pikiran kita mengalir terus, dan tuliskan. Satu kata kunci seringkali akan memanggil ide lain untuk bermunculan. Sekali lagi, biarkan ide itu bermunculan dan langsung tulis.

Di tahap ini, kita butuh situasi dan kondisi yang mendukung untuk fokus. Curah gagasan ini tidak akan lama kog. Jadi sayang sekali kalau kita tidak memfokuskan pikiran hingga gugusan ide selesai dibuat.

Bentuk gugusan ide itu bagaimana?

Kalau kita dengar istilah gugusan bintang, maka kita akan mengenalnya dengan sekumpulan bintang yang membentuk pola tertentu ya? Nah, demikian juga dengan gugusan ide ini. Gugusan ide adalah kumpulan ide-ide yang membentuk pola tertentu.

Seperti apa polanya? Kita akan melihatnya setelah menuangkannya. Gugusan ide ini akan sangat memudahkan kita dalam menjalani proses selanjutnya. Mungkin ada yang berpendapat bahwa tidak penting membuat gugusan ide, kelamaan. Kenapa tidak langsung saja ditulis?

Boleh saja kog langsung ditulis. Tapi kalau kita punya gugusan ide, maka kita akan punya bank ide. Kita punya tempat menyimpan investasi berharga kita nih, yaitu ide. Kenapa? Karena kita tidak selalu bisa langsung menulis ide kita menjadi sebuah naskah utuh. Mungkin ada hal lain yang lebih prioritas. Mungkin juga kita hanya punya waktu beberapa jam atau menit untuk menulis di sela-sela pekerjaan yang lain. Mungkin kita baru bisa menulis naskahnya sebulan, dua bulan, atau bahkan setahun setelah ini. Jadi, bank ide akan sangat membantu kita sebagai wadah menyimpan investasi ide.

Baca juga:

MEMBANGUN BANK IDE UNTUK LANGKAH AWAL MENULIS BUKU

Ide tak selalu datang membanjiri pikiran kita. Terkadang kita alami yang namanya buntu ide. Nggak ada ide mau nulis apa. Dipaksain mikir, malah nggak ada ide yang muncul. Nah, kalau kita punya bank ide, kan enak. Tinggal buka-buka kumpulan ide yang sudah kita buat, dan pilih mana yang sesuai untuk dikerjakan saat ini.

Dalam membuat gugusan ide ini, abaikan dulu mengenai urutan. Jangan kritisi apa saja ide yang keluar. Setelah ide itu habis tertumpah semuanya di kertas, maka baru langkah selanjutnya adalah menata urutannya.

Terkadang kita perlu mengurutkan berdasarkan kronologi, atau berdasarkan tingkat kesulitan materi, atau pertimbangan yang lain. Di saat ini, boleh kita panggil ranger kritis. Ingat, ranger kritis dan kreatif kalau muncul bersamaan hanya akan bertarung. Jadi kita istirahatkan dulu ranger kreatif. Dan jangan lupa berterimakasih pada ranger kreatif ;-)

Di tahap ini ranger kritis akan membantu kita untuk mengurutkan kumpulan ide-ide tadi. Sehingga nanti akan terlihat polanya. Tidak hanya mengurutkan, bahkan ranger kritis bisa saja merekomendasikan eliminasi jika menurutnya ada ide yang tidak berkaitan dengan topik utama.

Ranger kritis ini bertugas membantu kita mengurutkan dan menyeleksi ya. Akan tetapi keputusan ada di tangan kita. Jikalau si ranger kritis merekomendasikan eliminasi ide tertentu, kita bisa menerima atau menolak rekomendasi itu. Kalau terima, kita coret langsung saja di bagian ide itu. Kalau tolak, kita bisa biarkan ide itu tetap ada. Atau kalau ragu-ragu, kita bisa bubuhkan tanda bintang (misalnya) di bagian ide tersebut.

Baca juga:

START DULU BARU BISA SAMPAI FINISH (Menulis juga butuh proses)

Sampai di proses ini, pola tulisan kita akan mulai terlihat. Jadi nantinya tulisan kita akan saling terhubung satu sama lain dengan apik. Tidak ngalor ngidul tanpa arah yang jelas. Proses ini tidak se-lama yang dibayangkan. Ia bisa dilakukan dengan sangat cepat. Yang kita butuhkan adalah situasi dan kondisi yang mendukung kita untuk fokus.

Nah, sudah siap membuat gugusan ide? Ayo langsung praktek. Tuangkan idemu dalam gugusan ide.

Atau, kamu sudah ada bayangan tapi masih bingung. Hehe, bersyukurlah karena sudah bingung. Karena berarti materi teknik ini sudah masuk dalam pikiranmu ;-)

Membangun bank ide itu gampang-gampang susah ya? Tapi kan banyak gampangnya daripada susahnya. Biasanya kalau di kelas atau kursus yang saya pegang, saya ajari tahap demi tahapnya. Bagaimanapun juga menuangkan ide hingga menjadi bank ide, dan menjadi tulisan naskah utuh, membutuhkan ketrampilan. Tak hanya sekedar teori atau penjelasan. Dengan teknologi komunikasi saat ini, pembelajaran bisa dilakukan secara online juga, jika offline tidak memungkinkan. ;-)

 

penulis

About Lestari Ummu Al Fatih

<p> Penulis dan SLC di Sygma Daya Insani</p>

Learn More

Artikel Terkait